Selasa, 16 Maret 2010

Perempuan Tidak Boleh Memelihara Kucing, Benarkah?

Perempuan Tidak Boleh Memelihara Kucing, Benarkah?
Banyak kabar yang beredar bahwa seorang perempuan sebaiknya tidak memelihara kucing karena dapat menyebabkan kemandulan. Bulunya dikatakan sebagai penyebab utama kemandulan. Benarkah? Sebenarnya, kabar bahwa kucing dapat menyebabkan kemandulan dapat dikatakan benar. Namun, bukan bulunya yang menyebabkan hal tersebut. Lalu, bagian lain apa dari kucing yang dapat menyebabkan kemandulan?

Penyebab Kemandulan

Sebenarnya, yang dapat menyebabkan kemandulan adalah parasit yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit yang disebut toxoplasmosis. Toxoplasma merupakan penyakit yang menyerang hewan dan manusia, laki-laki maupun perempuan.

Pada hewan, toxoplasma ini dapat menyerang hewan-hewan berdarah panas, seperti: kucing, anjing, ayam, burung, sapi, kuda, tikus, domba, babi, harimau, dan lain-lain.

Lalu, mengapa kucing saja yang selama ini dijadikan sebagai ‘kambing hitam’? Hal ini dikarenakan di dalam tubuh kucing, toxoplasma dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu seksual (mikro dan makro gamet) dan aseksual (membelah diri). Sementara itu, pada hewan selain kucing, toxoplasma hanya dapat berkembang biak dengan cara aseksual.

Pada manusia yang terkena penyakit toxoplasmosis, mayoritas tidak mengalami gejala klinis yang dominan. Gejala bisa timbul pada infeksi akut, yaitu berupa pembesaran kelenjar getah bening di sekitar leher atau ketiak.

Namun lama-kelamaan, toxoplasma dapat menyebabkan kemandulan. Pada pria, kemandulan disebabkan karena toxoplasma dapat menginfeksi saluran sperma dan menyebabkan peradangan. Peradangan pada saluran sperma ini dapat menyebabkan penyempitan atau penutupan saluran sperma. Akibatnya, pria tersebut tidak dapat mengeluarkan sperma dan membuahi sel telur.

Pada perempuan, efek yang ditimbulkan pun hampir sama. Infeksi toxoplasma dapat mengebabkan peradangan dan penyempitan saluran telur. Akibatnya, ovarium tidak dapat sampai ke rahim dan tidak dibuahi oleh sperma.

Selain itu, toxoplasma dapat berpengaruh terhadap janin. Kista toxoplasma dapat masuk hingga otak janin dan menyebabkan cacat serta berbagai gangguan saraf. Selain itu, kepala janin dapat terisi oleh cairan sehingga kepalanya menjadi besar (hidrosefalus).

Bagaimana Cara Toxoplasma dapat Menular kepada Manusia?

Toxoplasma dalam tubuh kucing dapat menyebarkan ookista selama kira-kira 10 hari. Penyebaran ini biasa terjadi pada kucing muda yang kekebalan tubuhnya kurang baik. Manusia atau hewan berdarah panas lainnya dapat tertular bila menelan kista atau ookista toxoplasma dan ‘menetas’ seta berkembang dalam tubuh hewan atau manusia.

Kista tersebut tinggal dalam otot manusia dan hewan, sehingga penularannya dapat juga terjadi melalui makanan, yaitu apabila manusia atau hewan memakan daging mentah atau daging setengah matang yang mengandung kista toxoplasma.

Kista juga dapat hidup di tanah selama waktu tertentu, sehingga dapat menular kepada manusia atau hewan lain melalui kontak dengan kista tersebut.

Jadi, Apa Benar Toxoplasma Menular Melalui Bulu Kucing?

Salah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa toxoplasma menular melalui kista yang masuk ke dalam tubuh dengan dua cara, yaitu menelan atau kontak dengan kista. Pada kucing, kista dapat keluar melaui feces atau kotoran kucing. Jadi tidak benar bahwa bulu kucing dapat menyebabkan mandul. Pun demikian dengan liur kucing. Bulu dan liur kucing dapat menyebabkan kemandulan hanya bila pada bulu dan liur tersebut terdapat kista toxoplasma.

Jadi dalam hal ini, yang penting untuk diperhatikan adalah jangan berkontak dengan feces kucing.

4 komentar:

  1. bagaimana cara kita tau, kucing yang dipelihara terkena kista toxoplasma?

    BalasHapus
  2. alhamdullilah sedikit lega,, karna saya pecinta kucing..

    BalasHapus
  3. bagaimana cara kita mengetahui apa kucing kita terkena kista toxoplasma atau tidak?

    BalasHapus
  4. syukurlah penularan bukan melalui Bulu kucing :)

    BalasHapus